DIC Unesa Membawa Inovasi Disabilitas ke Forum Global melalui Riset Functional Behaviour Assessment (FBA) dan Augmentative and Alternative Communication (AAC) pada ICER 2026.
Khon Kaen, Thailand — Disability Innovation Centre (DIC) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan inklusif melalui partisipasi aktif pada International Conference on Educational Reform (ICER) 2026 yang diselenggarakan di Khon Kaen University, Thailand. Melalui presentasi hasil penelitian dan pameran produk inovasi, DIC Unesa memperkenalkan berbagai solusi berbasis riset yang dirancang untuk meningkatkan akses belajar, komunikasi, dan partisipasi penyandang disabilitas.Dalam konferensi tersebut, tim peneliti DIC Unesa mempresentasikan dua inovasi utama, yaitu Functional Behaviour Assessment (FBA) dan Augmentative and Alternative Communication (AAC). Kedua penelitian ini mencerminkan komitmen DIC Unesa dalam mengembangkan pendekatan berbasis bukti serta inovasi yang menjawab kebutuhan nyata individu penyandang disabilitas, pendidik, maupun masyarakat.Penelitian mengenai Functional Behaviour Assessment (FBA) dipresentasikan oleh Vivi Herviani dan Silfia Asning Tias. Kajian tersebut menyoroti pentingnya memahami pola perilaku peserta didik sebagai dasar dalam menyusun intervensi pendidikan yang tepat. Melalui asesmen yang sistematis, FBA membantu pendidik merancang lingkungan belajar yang lebih responsif, individual, dan mendukung perkembangan peserta didik.Sementara itu, penelitian Augmentative and Alternative Communication (AAC) dipresentasikan oleh Khofidotur Rofiah, Budiyanto, Sujarwanto, dan Acep Ovel. Penelitian ini menekankan pentingnya AAC sebagai alternatif komunikasi bagi individu yang mengalami hambatan bicara dan berkomunikasi sehingga mereka dapat menyampaikan kebutuhan, gagasan, maupun emosinya secara lebih efektif. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya DIC Unesa dalam mendorong setiap individu untuk berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan sosial.Selain mempresentasikan hasil penelitian, DIC Unesa juga memperkenalkan sejumlah produk inovatif, di antaranya Big Book dan AAC Flashcard. Big Book dikembangkan sebagai media pembelajaran visual yang interaktif dan mudah diakses oleh peserta didik penyandang disabilitas, sedangkan AAC Flashcard dirancang sebagai alat bantu komunikasi praktis bagi individu dengan hambatan komunikasi dan bahasa.Berbagai inovasi tersebut memperoleh respons positif dari peserta konferensi yang berasal dari berbagai negara. Akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan menunjukkan ketertarikan terhadap pendekatan DIC Unesa yang mengintegrasikan hasil penelitian, teknologi, dan desain yang berpusat pada kebutuhan pengguna dalam menciptakan solusi pendidikan yang inklusif.Keikutsertaan DIC Unesa dalam ICER 2026 tidak hanya menjadi ajang diseminasi hasil penelitian, tetapi juga bagian dari upaya memperluas jejaring kolaborasi internasional. Melalui forum ini, DIC Unesa berharap berbagai inovasi yang dikembangkan dapat diadaptasi dan memberikan manfaat yang lebih luas dalam mendukung pengembangan sistem pendidikan yang inklusif di berbagai negara.Partisipasi ini sekaligus menegaskan bahwa penelitian di bidang disabilitas tidak berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan dapat diwujudkan menjadi solusi nyata yang meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas. Kehadiran DIC Unesa di ICER 2026 menjadi langkah strategis dalam membangun masyarakat global yang lebih inklusif, dengan menjadikan aksesibilitas, komunikasi, dan partisipasi yang setara sebagai prioritas bersama.
Share It On: