Kunjungan Akademik ke DIC Unesa, Mahasiswa UK Petra Perdalam Pemahaman Pendidikan Inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus
SURABAYA - Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Kristen Petra melaksanakan kegiatan kunjungan akademik ke Disability Innovation Center Universitas Negeri Surabaya pada Selasa, 19 Mei 2026.
Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran untuk memperluas pemahaman mahasiswa mengenai pendidikan inklusif dan layanan bagi individu berkebutuhan khusus. Kunjungan akademik mahasiswa oleh Universitas Kristen Petra pada tahun ini merupakan kunjungan ketiga yang dilaksanakan sejak pertama kali pada 2018 lalu, setelah sebelumnya juga dilaksanakan pada 2019.
Dalam kesempatan tersebut, Lily Eka Sari, S.S., M.A., selaku dosen Prodi PG PAUD Universitas Kristen Petra menceritakan pengalamannya dalam mengampu mata kuliah pengantar pendidikan luar biasa.
Melalui mata kuliah tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada konsep dasar pendidikan khusus, termasuk assessment atau identifikasi kebutuhan anak berkebutuhan khusus sebagai dasar dalam menentukan layanan pendidikan yang tepat.
Maka dari itu, tujuan dari kunjungan akademik ini sendiri adalah memberikan pengalaman belajar langsung kepada mahasiswa terkait pelaksanaan layanan pendidikan yang baik dan sesuai bagi anak berkebutuhan khusus.
Kunjungan tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya memahami kebutuhan dan hak anak berkebutuhan khusus dalam memperoleh pendidikan yang setara.
Sebagai dosen PG PAUD yang ahli dan berkompeten pada bidang pendidikan anak berkebutuhan khusus, Miss Lily menekankan pentingnya penerapan pendidikan inklusif dalam sistem pendidikan.
Menurutnya, pendidikan inklusif tidak sekadar menempatkan anak berkebutuhan khusus di kelas reguler saja, melainkan juga memastikan bahwa setiap peserta didik dibawah umur memperoleh dukungan dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing agar tumbuh kembang mereka berjalan secara optimal.
Miss Lily, lanjutnya, turut menyampaikan harapannya agar pendidikan inklusif di Indonesia dapat semakin berkembang dan terintegrasi secara lebih luas dalam sistem pendidikan nasional.
Ia beranggapan, mahasiswa sebagai calon pendidik dan pemimpin di masa depan harus memiliki empati yang tinggi serta dapat mengambil keputusan yang lebih humanis dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan ramah bagi anak-anak dibawah umur.
Maka dari itu, Miss Lily menilai bahwa UK Petra dan dirinya masih perlu banyak belajar dari Unesa dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang inklusif di tingkat universitas.
“Dengan pendidikan inklusif seperti ini, saya pribadi masih harus terus belajar dari Unesa, saya kepingin belajar terus gitu.” pungkasnya.
Penulis: Shanita Septias Anaway
Share It On: