Kunjungan Sekolah Mutiara Bunda Cilegon ke PUI Disabilitas UNESA, Diskusikan Layanan bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus
Surabaya – Pusat Unggulan Iptek (PUI) Disabilitas Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menerima kunjungan dari Sekolah Mutiara Bunda Cilegon (SMBC) dalam rangka berbagi pengalaman dan berdiskusi mengenai penyelenggaraan pendidikan inklusif. Kegiatan berlangsung di Disability Innovation Center (DIC) UNESA dan membahas berbagai aspek layanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus di lingkungan sekolah.
Kunjungan tersebut disambut oleh Prof. Dr. Budiyanto, M.Pd., Ima Kurrotun Ainin, S.Pd., M.Pd., dan Silfia Asningtias, S.Pd., M.TESOL., Ph.D. Kegiatan diawali dengan pengenalan mengenai PUI Disabilitas UNESA, dilanjutkan dengan diskusi bersama tim Sekolah Mutiara Bunda Cilegon serta kunjungan ke sejumlah fasilitas yang berada di lingkungan DIC UNESA.
Dalam pertemuan tersebut, tim Sekolah Mutiara Bunda Cilegon turut menceritakan perjalanan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan inklusif. Gagasan pendirian sekolah berangkat dari kepedulian terhadap kondisi pendidikan pada awal 2000-an, ketika pilihan sekolah yang dapat mengakomodasi kebutuhan seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus, masih terbatas.
Sekolah Mutiara Bunda Cilegon kemudian berkembang dengan membawa semangat memberikan kesempatan belajar bagi setiap anak. Dalam perjalanannya, sekolah menerima peserta didik berkebutuhan khusus pada berbagai jenjang pendidikan. Saat ini terdapat sekitar 70 peserta didik berkebutuhan khusus yang tersebar pada layanan daycare, taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama dari keseluruhan lebih dari 500 peserta didik.
Pengalaman tersebut turut menjadi bahan diskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi sekolah dalam menjalankan pendidikan inklusif. Pembahasan mencakup batasan sekolah dalam menangani kebutuhan peserta didik, kewenangan dalam menentukan klasifikasi kebutuhan khusus, kebutuhan tenaga profesional, keberadaan Guru Pembimbing Khusus (GPK), hingga pentingnya membangun alur kolaborasi antara sekolah, keluarga, tenaga ahli, dan lembaga layanan terkait.
Prof. Dr. Budiyanto, M.Pd. dalam kesempatan tersebut juga memperkenalkan berbagai pengembangan dan inovasi yang dilakukan PUI Disabilitas UNESA. Sejumlah produk dan program yang dikembangkan diarahkan untuk mendukung pendidikan, komunikasi, mitigasi bencana yang inklusif, serta pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Salah satu pengembangan yang turut diperkenalkan adalah Signalong Indonesia sebagai pendekatan komunikasi yang memanfaatkan tanda untuk mendukung komunikasi. Dalam diskusi dijelaskan bahwa penggunaannya tidak terbatas pada penyandang tunarungu, tetapi dapat dimanfaatkan lebih luas sesuai kebutuhan komunikasi pengguna. Pengembangannya juga telah melibatkan berbagai jejaring dan kolaborasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Selain itu, diskusi membahas pentingnya pemahaman yang tepat mengenai ragam disabilitas dan proses identifikasi kebutuhan peserta didik. Sekolah perlu membangun kolaborasi dengan tenaga profesional dalam memperoleh informasi yang lebih spesifik mengenai kondisi peserta didik sehingga layanan pendidikan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.
Pembahasan kemudian berkembang pada peran Guru Pembimbing Khusus dan Unit Layanan Disabilitas dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan inklusif. Diskusi menekankan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya bergantung pada keberadaan satu tenaga atau unit tertentu, tetapi membutuhkan kerja sama antara guru kelas, guru mata pelajaran, tenaga profesional, keluarga, sekolah, serta layanan pendukung lainnya.
Tim Sekolah Mutiara Bunda Cilegon juga menyampaikan sejumlah pertanyaan dan masukan terkait praktik pendidikan inklusif di sekolah. Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain batas kewenangan sekolah dalam penanganan peserta didik berkebutuhan khusus, klasifikasi disabilitas, kompetensi atau sertifikasi yang diperlukan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, tenaga profesional yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan pembelajaran, serta alur kolaborasi dalam memberikan layanan kepada peserta didik.
Setelah sesi diskusi, rombongan diajak mengenal lebih dekat fasilitas dan layanan yang berada di lingkungan DIC UNESA, termasuk Unit Layanan Anak Berkebutuhan Khusus (ULABK) UNESA. Kunjungan tersebut memberikan gambaran mengenai layanan serta fasilitas yang dikembangkan untuk mendukung kebutuhan anak berkebutuhan khusus.
Melalui kunjungan ini, PUI Disabilitas UNESA dan Sekolah Mutiara Bunda Cilegon dapat saling berbagi pengalaman mengenai praktik pendidikan inklusif dari perspektif perguruan tinggi dan sekolah. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman bahwa penyelenggaraan pendidikan inklusif membutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar setiap peserta didik memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensinya.
Share It On: