Lewat PKM, Sekolah Pascasarjana dan PUID UNESA Latih Mahasiswa Tuli dengan Media Botol Bicara
puid.unesa.ac.id, SURABAYA - Sekolah Pascasarjana bekerja sama dengan Pusat Unggulan Iptek Disabilitas (PUID) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dalam melaksanakan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan mengangkat tema “Pelatihan Komunikasi Inklusif untuk Mahasiswa dengan Disabilitas Rungu” dengan menggunakan Botol Bicara sebagai media visual-verbal yang ramah dan Sederhana. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari mulai hari Rabu hingga Jum’at, 2-4 Juli 2025 yang bertempat di PUID UNESA dan gedung Psikologi lantai 2.
Acara dibuka dengan sambutan oleh Prof. Dr. H. Bambang Yulianto, M.Pd., selaku Direktur Pascasarjana sekaligus ketua dari PKM. Ia sangat mengapresiasi ide unik yang telah dikembangkan dan dipraktekkan pada PKM ini. Ia juga menyampaikan bahwa, penggunaan botol bicara ini dapat bermanfaat untuk disabilitas rungu dalam menyampaikan keinginannya, misal saat orang tua berada di ruangan lain mereka tetap bisa berkomunikasi dengan orang tuanya. Hal ini menjadi kelebihan dibanding bahasa isyarat yang harus berhadap-hadapan, “intinya kita tidak boleh menolak perubahan, memang awalnya susah tapi alam lama pasti bisa,: pungkasnya. Selanjutnya, Prof. Dr. Budiyanto, M.Pd., selaku ketua PUID mengucapkan terimakasih dan harapan besarnya agar dapat membantu teman-teman tuli dalam berkomunikasi.
Pada hari pertama kegiatan dilakukan dengan mendemonstrasikan Botol Bicara ini, mulai dari alat, bahan, cara kerja dan cara penggunaan. Mat Husen, inovator sekaligus fasilitator kegiatan ini mengajarkan mulai dari dasar seperti pelafalan A I U E O hingga beberapa kata seperti “Bapak”, “Bapak Pergi” dan “Hati-Hati Bapak”.

Berlanjut pada hari kedua, materi yang disampaikan tidak jauh berbeda dengan hari pertama. Mat Husen mengajarkan kosakata baru kepada mahasiswa tuli, yaitu “Makan Sate” dan “Nama Saya”. Ia mengajarkan dengan mendatangi satu per satu mahasiswa dan mencontohkan kembali kata yang harus diucapkan.
Pada hari terakhir, Mat Husen memberikan kosakata baru untuk diucapkan oleh para mahasiswa tuli, yaitu “Apa Pak”, “Tahu”, “Tuli”, dan “Sakit Pak”, serta mengulas kembali huruf vokal (A, I, U, E, O).
Melalui wawancara yang dilakukan,Mat Husen, selaku inovator alat ini, mengaku awalnya hanya menciptakan Botol Bicara untuk tujuan hiburan semata. Namun, berkat apresiasi masyarakat dan dorongan berbagai pihak, media sederhana ini kini dikembangkan menjadi sarana pembelajaran vokal yang lebih inklusif dan bermanfaat, khususnya bagi penyandang disabilitas rungu. Meski awalnya sempat meragukan efektivitasnya, Mat Husen optimistis dengan pendampingan yang tepat, mahasiswa tuli dapat mempelajari kosakata dasar melalui media ini secara perlahan. Ia juga berharap, setelah program ini berakhir, manfaat Botol Bicara bisa terus berlanjut dan ditingkatkan agar semakin banyak penyandang disabilitas rungu yang terbantu dalam berkomunikasi.

Selain itu, salah satu mahasiswa tuli sekaligus peserta kegiatan Muhammad Fadillah Akbar mengungkapkan kesan positifnya setelah mengikuti pelatihan ini. “Saya senang karena Botol Bicara ini inovasi untuk teman-teman disabilitas tuli, jadi intinya botol bicara bermanfaat membantu komunikasi,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa dalam pelatihan ini dirinya belajar membuat irama dalam suara menggunakan Botol Bicara, seperti pada pelafalan A, I, U, E, O.
Kegiatan pelatihan komunikasi inklusif menggunakan Botol Bicara ini diharapkan mampu membuka peluang baru bagi teman-teman tuli untuk lebih percaya diri dalam berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya.
Program ini sekaligus menjadi komitmen nyata kolaborasi Sekolah Pascasarjana dan PUID UNESA dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang ramah disabilitas dan menjembatani kesenjangan komunikasi di tengah masyarakat.
Penulis: Lina Nur Laili & Alya Alamanda Savitri
Dokumentasi: Titan salma
Share It On: