Pertama di Indonesia, Unesa Kembangkan Metrik Inklusi Disabilitas

Jakarta:
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sedang mengembangkan Metrik Inklusi Disabilitas
Unesa (UDIM) sebagai parameter universal tingkat aksesibilitas penyandang
disabilitas di institusi atau organisasi. Pengembangan UDIM telah sampai pada
tahap focus group discussion (FGD) dengan para pakar dan pengguna serta mitra
dalam dan luar negeri secara hybrid.
Kepala
Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) Unesa, Budiyanto, menyampaikan fokus
pembahasan dalam diskusi, yakni penyusunan indikator. Pengembangan UDIM,
lanjutnya, bertujuan untuk memberikan indikator sekaligus mengukur tingkat kualitas
inklusi disabilitas dalam sebuah organisasi.
Manfaat
yang diharapkan adalah menjadi indikator acuan pengembangan kualitas inklusi
disabilitas dan menjadi bahan evaluasi tingkat kualitas inklusi disabilitas di
suatu organisasi. “Ini menjadi acuan atau indikator penting bagi organisasi
atau institusi termasuk perguruan tinggi di dunia. Setelah berdiskusi dengan
tim, pakar, pengguna dan mitra dan berdasarkan masukan yang ada, draf revisi
akan diluncurkan dalam waktu dekat,” katanya.
UDIM
mendapat apresiasi dari berbagai pakar asing, antara lain Professor of Special
and Inclusive Education, University of Sydney-Australia, Prof David Evans dan
Professor of Education di The Open University, Prof Kieron Sheehy. Dalam
kesempatan itu, keduanya juga memberikan penguatan terhadap desain indikator
UDIM agar dapat menjadi acuan universal bagi seluruh organisasi dan institusi
di dunia.
Sementara
itu, dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama,
Sujarwanto menyampaikan bahwa pengembangan UDIM merupakan bagian dari komitmen
Unesa untuk menciptakan lingkungan ramah disabilitas di berbagai institusi dan
masyarakat dari Indonesia hingga dunia.
Menurutnya,
ini merupakan salah satu terobosan besar yang dilakukan kampus 'One Step Ahead'
untuk meningkatkan kualitas aksesibilitas penyandang disabilitas di berbagai
bidang. Sebelumnya, Unesa merancang aplikasi yang memudahkan tenaga kerja
difabel untuk mengakses pekerjaan di perusahaan atau industri.
Kemudian
mengembangkan kamus bahasa isyarat atau Signalong Indonesia dengan pakar asing.
Atas komitmen tersebut, Unesa dipercaya pemerintah untuk memamerkan inovasi
layanan disabilitas di Dubai beberapa waktu lalu.
Unesa
mendapatkan penghargaan kampus inklusi dari kementerian pada tahun 2013 dan
Unit Pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus pada tahun 2014, jelasnya.
Pemberdayaan
disabilitas, jelasnya, merupakan salah satu program unggulan Unesa. Hal ini
didukung oleh banyaknya sumber daya fisik dan sumber daya manusia yang mumpuni.
Selain itu, para ahli Unesa di bidang disabilitas telah mendapatkan pengakuan
nasional dan internasional.
Unesa
dengan penuh semangat selangkah lebih maju dan terus berinovasi untuk mendukung
segala bentuk pemberdayaan disabilitas. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
diluncurkan UDIM untuk mengukur inklusi disabilitas dalam organisasi sekaligus
menjadi metrik inklusi disabilitas pertama di Indonesia dan menjadi acuan bagi
organisasi dunia.
Share It On: