Pilmapres Disabilitas Unesa 2026 Dorong Inovasi Inklusif Mahasiswa
SURABAYA – Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sukses menyelenggarakan Pilmapres Disabilitas 2026 sebagai ajang lomba perdana yang ditujukan untuk menjaring mahasiswa disabilitas berprestasi sekaligus mendorong lahirnya inovasi berbasis inklusivitas.
Dalam rangkaian kegiatan yang diselenggarakan pada Selasa, 28 April 2026 tersebut, para finalis menyampaikan presentasi gagasan inovatif yang terinspirasi dari pengalaman pribadi serta kebutuhan nyata dalam lingkungan disabilitas.
Dalam rangkaian acara, finalis mempresentasikan gagasan inovatif yang berangkat dari pengalaman pribadi dan kebutuhan nyata di lingkungan disabilitas. Beragam isu diangkat, mulai dari pemberdayaan ekonomi, pendidikan inklusif, hingga pengembangan potensi di bidang kreatif dan olahraga.
Salah satu finalis, Mohammad Hilbram, menyoroti pentingnya akses inklusif di bidang musik. Ia berharap ke depan dapat bergabung dengan orkestra dan mendapatkan bimbingan yang lebih terbuka bagi mahasiswa disabilitas.
Mohammad Ibram turut menggagas inovasinya berupa pelatihan audio engineering bagi tunanetra. Ia menilai bahwa sensitivitas audio yang dimiliki tunanetra menjadi keunggulan yang dapat dimanfaatkan di industri kreatif digital.
“Kami ingin menantang stigma bahwa tunanetra tidak bisa masuk ke industri kreatif. Justru mereka memiliki potensi besar di bidang audio,” jelasnya.
Sementara itu, Moch. Fadillah Akbar menunjukkan kiprahnya dalam pemberdayaan komunitas tunarungu melalui berbagai inisiatif kewirausahaan dan pelatihan. Hal ini terlihat dari perannya sebagai founder dan leader dalam sejumlah gerakan sosial, seperti Kitasetara Foundation, Tulika Kopi, serta Komunitas Tuli UNESA yang hingga kini telah menghimpun puluhan anggota dari berbagai daerah.
Di sisi lain, Raynata Muhammad Alamsyah mengangkat isu diskriminasi dalam kompetisi tilawatil Qur’an. Berangkat dari pengalaman pribadi, ia menggagas program pembinaan sejak dini bagi anak tunanetra agar memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.
“Ingin membuktikan bahwa teman-teman tunanetra juga mampu berprestasi di bidang keagamaan jika diberikan wadah yang tepat,” ungkap finalis Pilmapres Disabilitas Unesa, Raynata Muhammad Alamsyah.
Finalis lainnya, Rivaldo Ardistyo, mengembangkan program pembinaan catur inklusif bagi tunanetra. Menurutnya, catur merupakan olahraga yang mudah diakses dan dapat menjadi sarana pengembangan potensi yang tidak membutuhkan biaya, serta memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sarana peningkatan kemampuan kognitif dan kepercayaan diri.
Program yang digagas Rivaldo berfokus pada pembinaan sejak dini dengan sistem pelatihan yang fleksibel, baik secara daring maupun luring. Ia juga mengadaptasi penggunaan papan catur berbasis braille serta media audio untuk membantu peserta memahami permainan secara lebih optimal.
Adapun Jason Christopher Zheng masih mengembangkan produk inovatifnya (PI) di bidang desain kreatif berbasis minat pada video game dan produk merchandise.
Meskipun ide yang dibawa masih dalam tahap pengembangan, Jason menunjukkan potensi besar dalam mengintegrasikan minat personal dengan peluang ekonomi kreatif. Ia juga memiliki pengalaman dalam bidang public speaking, yang menjadi nilai tambah dalam menyampaikan gagasannya hingga berhasil meraih penghargaan Best Speech pada ajang ini.
Berdasarkan hasil penilaian juri, Moch. Fadillah Akbar berhasil meraih Juara 1 dan akan mewakili UNESA ke tingkat nasional yang akan dibuka pada 18 Mei 2026.
Posisi Juara 2 diraih oleh Rivaldo Ardistyo, dan Juara 3 diraih oleh Raynata Muhammad Alamsyah. Sementara itu, penghargaan Pilmapres Terfavorit diberikan kepada Mohammad Hilbram, sementara Best Speech diraih oleh Jason Christopher Zheng.
Panitia pelaksana, Alya Nabila Pramesti, menjelaskan bahwa Pilmapres Disabilitas Unesa 2026 merupakan penyelenggaraan pertama yang lahir dari kesadaran akan potensi besar mahasiswa disabilitas di lingkungan kampus.
“Pilmapres Disabilitas Unesa tahun ini dilatarbelakangi oleh pandangan kami yang melihat banyak mahasiswa disabilitas yang berkompeten di bidangnya masing-masing,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa disabilitas tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan advokasi.
“Banyak dari mereka memiliki prestasi di luar perkuliahan, seperti menjadi leader, founder organisasi, maupun anggota aktif dalam komunitas,” jelas Alya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kegiatan ini akan terus berlanjut sebagai agenda tahunan dan menjadi bagian dari upaya Unesa dalam mengirimkan delegasi terbaik ke tingkat nasional.
“Kegiatan ini akan terus dilanjutkan karena nantinya Unesa akan secara rutin mengirimkan delegasi untuk mewakili universitas pada Pilmapres Disabilitas tingkat nasional,” imbuhnya.
Alya juga berharap di tahun-tahun selanjutnya, jangkauan kegiatan ini dapat semakin luas sehingga lebih banyak mahasiswa disabilitas yang terlibat.
“Harapan ke depannya agar kami bisa melakukan promosi yang lebih luas di tahun-tahun selanjutnya agar semakin banyak mahasiswa disabilitas yang berpartisipasi,” pungkasnya.
Share It On: