Soft Launching EMONESA: Inovasi Robotika Karya Tim Riset DIC Unesa Tuntun Anak Autisme Belajar Mengenali Emosi
SURABAYA - Disability Innovation Center (DIC) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali menekankan komitmennya pada bidang teknologi inklusif melalui soft launching EMONESA pada Selasa, 7 April 2026.
Melibatkan tim riset yang terdiri dari Prof. Dr. Sujarwanto, M.Pd., Wulan Patria Saroinsong, S.Psi., M.Pd., Ph.D., Ricky Setiawan, S.Pd.SD., M.Ed., Nanda Audia Vrisaba, S.Psi., M.Psi., Psikolog, serta Muhammad Nurul Ashar, S.Pd., M.Ed., EMONESA dikembangkan guna menghadirkan solusi pembelajaran yang interaktif dan inklusif bagi anak-anak autisme.
“Kami dari tim peneliti DIC mencoba membuat prototipe berupa robot agar anak-anak (autisme) dapat mengenali emosi marah, dan sebagainya,” ujar Prof. Dr. Sujarwanto, M.Pd. selaku ketua tim riset EMONESA, Selasa, 7 April 2026.
Kegiatan soft launching tersebut dilaksanakan di Gedung Disability Innovation Center (DIC) Kampus II Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Lidah Wetan, Surabaya dan dihadiri langsung oleh Ketua Disability Innovation Center (DIC), Prof. Dr. Budiyanto, M.Pd., Kepala Sekolah SD Labschool Unesa 2, Hapsari Dewi, S.Pd., Gr., jajaran dosen dan guru pendidik serta dua anak autisme dari SD Labschool Unesa 2.
Kehadiran kedua anak autisme dalam rangkaian kegiatan ini menjadi representasi dari kelompok yang menjadi fokus utama pengembangan inovasi robotika tersebut.
Prof. Sujarwanto menambahkan jika model robot yang diluncurkan masih berada pada tahapan dasar. Meski demikian, pengembangan akan terus dilakukan secara bertahap hingga siap didistribusikan secara luas ke masyarakat. Tim riset juga menargetkan pengembangan prototipe kedua EMONESA sebagai bentuk penyempurnaan dari versi awal yang diharapkan dapat terealisasi pada tahun ini.
Prototipe pertama EMONESA merupakan hasil kerja sama dengan mitra dari Uzbekistan, namun masih memiliki sejumlah keterbatasan, seperti desain yang belum portabel dan bobot sekitar 12 kilogram. Secara visual, EMONESA didesain menyerupai anak laki-laki dengan mengenakan vest berwarna biru dan celana biru tua. Sementara itu, pada bagian dada robot terpasang layar yang dapat memutar lagu dan video sebagai media interaksi.
Dalam penggunaannya, robot menampilkan berbagai konten visual yang menggambarkan emosi anak, seperti, sedih, senang, marah dan emosi lainnya. Setiap emosi disajikan melalui nama emosi yang disertai ekspresi wajah anak dalam bentuk video, sehingga memudahkan pengguna dalam memahami konteks emosi tersebut.
Interaksi juga dapat dilakukan melalui ponsel atau aplikasi yang terhubung langsung dengan robot. Pengguna dapat memilih jenis emosi tertentu, kemudian diminta untuk menirukan ekspresi atau gerakan yang sesuai. Sistem pada EMONESA akan memberikan umpan balik secara langsung. Jika ekspresi yang ditunjukkan belum tepat, robot akan memberikan koreksi dan mendorong pengguna untuk mencoba kembali hingga berhasil.
Apabila inovasi ini mendapatkan minat yang tinggi, EMONESA berpotensi untuk diproduksi secara massal. Selain dikomersialkan, robot ini juga direncanakan akan disalurkan ke sekolah-sekolah dengan kurikulum inklusi sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan inklusif di Indonesia
Kepala Sekolah SD Labschool Unesa 2, Hapsari Dewi, S.Pd., Gr., turut menyampaikan dukungannya terhadap soft launching EMONESA. Menurutnya, anak dengan autisme umumnya memiliki kesulitan dalam mengekspresikan emosi sehingga cenderung tampak datar.
Oleh karena itu, mereka membutuhkan pendampingan atau terapi untuk mengenalkan berbagai ekspresi, seperti bahagia, marah, dan emosi lainnya. Kehadiran EMONESA dinilai dapat membantu memenuhi kebutuhan tersebut, terutama melalui pendekatan yang lebih menarik dan interaktif.
“Anak dengan autisme itu kebanyakan sangat tertarik dengan teknologi informasi, jadi bagi mereka ada hal menarik tersendiri dari robot ini yang memadukan bermain emosi dengan teknologi informasi.” ungkapnya.
Writer: Shanita Septias Anaway
Share It On: