Walk for Autism 2026 di Unesa Gaungkan Kesadaran Inklusi bagi Penyandang Autisme
SURABAYA – Semangat inklusi dan kepedulian terhadap penyandang autisme mewarnai pelaksanaan Walk for Autism (WFA) Fun Walk 2026 yang digelar di lingkungan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), pada Minggu pagi, 7 Juni 2026.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Tim Penggerak PKK Jawa Timur, Dharma Wanita, Junior Chamber International (JCI) East Java, serta sejumlah mitra lainnya.
Sejak pagi hari, ribuan peserta yang terdiri atas siswa taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga sekolah menengah pertama memadati lapangan Rektorat Unesa.
Mereka mengikuti berbagai aktivitas yang dirancang tidak hanya untuk menyehatkan tubuh, namun juga meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penerimaan terhadap individu dengan autisme.
Serangkaian acara diawali dengan agenda senam bersama yang berlangsung meriah. Setelah itu, para peserta WFA mengikuti jalan sehat dengan rute mengelilingi area kampus sejauh kurang lebih satu kilometer.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan, terutama saat para siswa berjalan bersama sambil membawa semangat kampanye inklusi bagi penyandang autisme. Usai dengan kegiatan jasmani, para peserta kemudian diajak berpartisipasi dalam berbagai kompetisi kreatif.
Beberapa perlombaan yang digelar antara lain adalah lomba mewarnai, menghias tempat sampah, melukis caping, serta merangkai parsel.
Beragam kegiatan tersebut menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus belajar mengenai nilai kebersamaan dan penghargaan terhadap perbedaan.
Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur Restu Novi Widiani, jajaran pengurus PKK Jawa Timur, Ketua Dharma Wanita Persatuan Inspektorat Jawa Timur Iis Hendro Gunawan, serta Wakil Rektor IV UNESA Dwi Cahyo Kartiko.
Kehadiran beberapa pihak tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung terciptanya lingkungan yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas, khususnya autisme.
Dalam kesempatan tersebut, para penyelenggara menekankan bahwa penanganan isu disabilitas tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja sama lintas sektor, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, hingga keluarga untuk menciptakan dukungan yang berkelanjutan bagi penyandang autisme.
Direktur Walk for Autism 2026, Elizabeth Glory, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan mengubah cara pandang masyarakat terhadap autisme. Menurutnya, individu autistik tidak seharusnya menjadi sasaran stereotip maupun perlakuan diskriminatif.
Penulis: Shanita Septias Anaway
Share It On: