11 April 2022, Memperingati hari kelahiran Jacob Rodrigues Pereine, Tokoh awal bahasa isyarat dan komunikasi bagi tunarungu

Mengulik Sejarah Bentuk Awal Bahasa Isyarat Dunia
Bahasa isyarat
adalah sebuah bentuk komunikasi yang menggunakan gerakan tangan, ekspresi
wajah, dan gerakan tubuh untuk menyampaikan pesan tanpa menggunakan kata-kata
lisan. Bahasa isyarat telah digunakan oleh berbagai komunitas di seluruh dunia,
terutama oleh orang-orang dengan gangguan pendengaran. Namun, sejarah bahasa
isyarat ini memiliki kisah panjang dan menarik. Artikel ini akan mengulik
sejarah awal dari bahasa isyarat dunia, mengungkap bagaimana bentuk awal bahasa
isyarat muncul dan berkembang di berbagai wilayah.
Sejak zaman
kuno, masyarakat pribumi di berbagai benua telah menggunakan bentuk bahasa
isyarat untuk berkomunikasi. Suku-suku di Afrika, Amerika, Asia, dan Oseania
telah mengembangkan sistem bahasa isyarat mereka sendiri untuk berkomunikasi di
dalam kelompok mereka. Bahasa isyarat di masyarakat pribumi ini berperan
penting dalam kehidupan sehari-hari, seperti berburu, bertani, dan
berkomunikasi dengan anggota kelompok yang berada di jarak jauh.
Selain
masyarakat pribumi, bahasa isyarat juga digunakan dalam lingkungan militer dan
diplomatik di berbagai negara. Selama perang, tentara sering menggunakan kode
isyarat untuk berkomunikasi di medan tempur, terutama ketika situasi memerlukan
kerahasiaan. Di ranah diplomatik, bahasa isyarat juga digunakan sebagai sarana
komunikasi antara perwakilan negara yang berbeda bahasa.
Salah satu tokoh
pengembang bentuk Bahasa isyarat bagi anak Tunarungu adalah Jacob Rodrigues
Pereira (1715-1780). Pereira adalah seorang pendidik tunarungu dan ahli bahasa
isyarat yang terkenal. Ia lahir di Lisbon, Portugal, pada tahun 1715 dalam
keluarga Yahudi Marrano yang menganut agama Yahudi secara rahasia untuk
menghindari penganiayaan oleh Inquisisi Spanyol dan Portugal.
Pereira
merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah pengembangan pendidikan dan
bahasa isyarat untuk orang-orang tunarungu. Ia sendiri adalah seorang tunarungu
dan juga memiliki beberapa keluarga yang mengalami gangguan pendengaran, yang
menjadi salah satu alasan dia tertarik untuk membantu orang-orang dengan
kondisi serupa.
Pada usia 21
tahun, Pereira mengembangkan metode pendidikan untuk anak-anak tunarungu
berdasarkan pendekatan visual. Metode ini melibatkan penggunaan gerakan tangan,
mimik wajah, dan ekspresi tubuh untuk menyampaikan pesan dan komunikasi.
Konsepnya yang inovatif menggabungkan bahasa isyarat dengan gambar, tulisan,
dan lip reading (membaca gerakan bibir) untuk membantu tunarungu memahami
bahasa dan berkomunikasi dengan lebih efektif. Pereira berhasil membuka sekolah
pertama untuk tunarungu di Paris pada tahun 1750, yang dikenal dengan nama
"Institut National des Jeunes Sourds de Paris" (Institut Nasional
untuk Anak-anak Tunarungu di Paris). Sekolah ini menjadi cikal bakal dari
institusi pendidikan tunarungu di Prancis.
Bahasa Isyarat di Berbagai Negara
Bahasa Isyarat Amerika
Bahasa isyarat
Amerika (American Sign Language/ASL) adalah salah satu bahasa isyarat paling
terkenal dan paling banyak digunakan di dunia. ASL dikembangkan pada awal abad
ke-19 oleh Thomas Hopkins Gallaudet, seorang pendidik dari Amerika Serikat, dan
Laurent Clerc, seorang tunarungu dari Prancis. ASL memiliki sistem gramatikal
yang kompleks dan kaya ekspresi, dan saat ini digunakan oleh jutaan orang di
Amerika Utara.
Bahasa Isyarat Britania
Bahasa isyarat
Britania (British Sign Language/BSL) merupakan bentuk bahasa isyarat yang
digunakan di Inggris dan beberapa wilayah lain di Britania Raya. BSL berkembang
secara terpisah dari ASL dan memiliki aturan tata bahasa dan kosakata yang
berbeda.
Bahasa Isyarat Jepang
Bahasa isyarat
Jepang (Japanese Sign Language/JSN) adalah bentuk bahasa isyarat yang digunakan
di Jepang. Meskipun awalnya banyak dipengaruhi oleh ASL, JSN telah berkembang
menjadi bahasa isyarat yang unik dan memiliki variasi regional di berbagai
wilayah Jepang.
Dampak dan Perkembangan Masa Depan
Seiring dengan
perkembangan teknologi dan penyebaran informasi yang semakin luas, bahasa
isyarat menjadi semakin diakui dan diterima oleh masyarakat global. Organisasi
internasional seperti World Federation of the Deaf (WFD) berperan dalam
mempromosikan pengakuan dan perlindungan hak-hak penyandang disabilitas dan
pengguna bahasa isyarat. Di berbagai negara, pendidikan bahasa isyarat semakin
diperluas dan bahkan diakui sebagai bahasa kedua yang sah.
Masa depan
bahasa isyarat sangat menjanjikan dengan adanya teknologi komunikasi yang terus
berkembang, seperti pengenalan bahasa isyarat oleh sistem kecerdasan buatan dan
aplikasi yang memfasilitasi komunikasi antara pengguna bahasa isyarat dan
non-penyandang disabilitas. Semakin banyak orang yang menyadari pentingnya
penggunaan bahasa isyarat, semakin besar kesempatan bagi masyarakat dunia untuk
memiliki komunikasi yang lebih inklusif dan memahami keberagaman budaya.
Daftar Pustaka
- Lane, H.,
Hoffmeister, R., & Bahan, B. (1996). A Journey into the Deaf-World.
DawnSignPress.
-
Prasithrathsint, A. (2009). History of the Deaf in Thailand. In Van Cleve, J.
V., Crouch, B. A., & Schuyler, J. V. (Eds.), Deaf History Unveiled:
Interpretations from the New Scholarship (pp. 69-100). Gallaudet University
Press.
- Padden, C.,
& Humphries, T. (2005). Inside Deaf Culture. Harvard University Press.
- World
Federation of the Deaf. (2019). About WFD. Retrieved from https://wfdeaf.org/about-wfd/
- Gallagher, C.
R. (2015). American Sign Language: A Look at Its History, Structure, and
Community. Sign Media, Inc.
- Senghas, A.,
Kita, S., & Özyürek, A. (2004). Children Creating Core Properties of
Language: Evidence from an Emerging Sign Language in Nicaragua. Science,
305(5691), 1779-1782.
Share It On: