Patahkan Stigma, Profil 10 Sosok Difabel Hebat
Windi Nur Fadilah
Keterbatasan sering dipandang sebagai penghalang. Namun, 10 tokoh luar biasa dari dalam dan luar negeri ini membuktikan bahwa semangat, tekad, dan yang tak kalah penting pendidikan, dapat menghilangkan keterbatasan apa pun.
Mereka tidak hanya sukses untuk diri sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi jutaan penyandang disabilitas lainnya. Mari kita simak kisah mereka dan peran pendidikan dalam perjalanan hebat mereka.
Tokoh Inspiratif dari Dalam Negeri
1. Angkie Yudistia
Kondisi Disabilitas: Tunarungu (Hambatan pendengaran).
Dikenal Sebagai: Sociopreneur (Pendiri Thisable Enterprise), Staf Khusus Presiden RI bidang Sosial (Periode 2019-2024).
Kekuatan Pendidikan: Pendidikan menjadi cara Angkie untuk membuktikan kemampuannya pasca kehilangan pendengaran. Ia menggunakan ilmunya untuk membangun jembatan antara dunia difabel dan industri kerja.
Riwayat Pendidikan:
S1 Ilmu Komunikasi (Advertising) di London School of Public Relations (LSPR) Jakarta.
S2 Ilmu Komunikasi (Marketing Communication) di London School of Public Relations (LSPR) Jakarta.
2. Surya Sahetapy
Kondisi Disabilitas: Tunarungu (Hambatan pendengaran).
Dikenal Sebagai: Aktivis Tuli, Pengadvokasi Bahasa Isyarat (Bisindo), dan Konsultan Hak Aksesibilitas Tuli.
Kekuatan Pendidikan: Surya adalah bukti nyata bahwa komunitas Tuli bisa meraih pendidikan setinggi mungkin. Ia menjadi panutan dalam memperjuangkan akses pendidikan tinggi yang ramah Tuli di kancah internasional.
Riwayat Pendidikan:
Menempuh pendidikan tinggi di Rochester Institute of Technology (RIT) di New York, AS (salah satu universitas terbaik dunia untuk komunitas Tuli), meraih gelar S1 dan S2.
3. Habibi Afsyah
Kondisi Disabilitas: Muscular Dystrophy (Distrofi Otot), sebuah kondisi yang memengaruhi kekuatan motoriknya sehingga ia beraktivitas menggunakan kursi roda.
Dikenal Sebagai: Pebisnis online sukses, ahli SEO (Search Engine Optimization), dan motivator.
Kekuatan Pendidikan: Dengan keterbatasan geraknya, Habibi memfokuskan diri pada dunia digital. Ilmu Sastra Inggris yang ia dapat di universitas sangat membantunya dalam menguasai pemasaran konten dan SEO.
Riwayat Pendidikan:
S1 Sastra Inggris di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (UI).
4. Dr. Slamet Thohari
Kondisi Disabilitas: Difabel Daksa (Hambatan fisik/motorik).
Dikenal Sebagai: Dosen Sosiologi di Universitas Brawijaya (UB), peneliti, dan Anggota Komisi Nasional Disabilitas (KND) RI.
Kekuatan Pendidikan: Dr. Slamet menggunakan pendidikannya sebagai alat perjuangan. Ia menjadi salah satu akademisi difabel paling berpengaruh di Indonesia yang fokus meneliti dan mengadvokasi kebijakan disabilitas.
Riwayat Pendidikan:
S1 Sosiologi di Universitas Brawijaya.
S2 (Master) di Flinders University, Australia.
S3 (Doktor) di University of Sydney, Australia.
5. Putri Ariani
Kondisi Disabilitas: Tunanetra (Hambatan penglihatan).
Dikenal Sebagai: Penyanyi, penulis lagu, dan musisi berbakat yang menjadi finalis America's Got Talent (AGT) 2023.
Kekuatan Pendidikan: Putri mengasah bakat musiknya melalui pendidikan formal kejuruan. Kini, ia memilih memperluas wawasannya di bidang yang berbeda (hukum), menunjukkan tekadnya untuk memiliki pemahaman yang kuat di luar dunia seni.
Riwayat Pendidikan:
SMK Negeri 2 Kasihan, Bantul (Sekolah Menengah Musik/SMM Yogyakarta).
Saat ini terdaftar sebagai mahasiswi Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada (UGM) (angkatan 2024).
Tokoh Inspiratif dari Luar Negeri
6. Helen Keller (Amerika Serikat)
Kondisi Disabilitas: Ganda (Tunanetra dan Tunarungu) sejak usia 19 bulan.
Dikenal Sebagai: (Mendiang) Penulis, aktivis politik, dan dosen legendaris. Ia adalah ikon global untuk hak pendidikan inklusif.
Kekuatan Pendidikan: Kisahnya adalah bukti fundamental bahwa pendidikan adalah hak semua orang. Dengan bimbingan guru (Anne Sullivan), ia belajar membaca Braille, menulis, dan berkomunikasi.
Riwayat Pendidikan:
Menjadi orang tunanetra-tuli pertama di dunia yang meraih gelar Sarjana (Bachelor of Arts) dari Radcliffe College (kini bagian dari Universitas Harvard) dengan predikat Cum Laude.
7. Mendiang Stephen Hawking (Inggris)
Kondisi Disabilitas: Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), penyakit motorik neuron yang membuatnya lumpuh secara progresif.
Dikenal Sebagai: (Mendiang) Fisikawan teoretis, kosmolog, dan penulis buku sains terkemuka di dunia.
Kekuatan Pendidikan: Fisiknya mungkin terbatas di kursi roda, tetapi pikirannya menjelajahi alam semesta. Pendidikan adalah seluruh hidupnya, baik sebagai mahasiswa, peneliti, maupun profesor.
Riwayat Pendidikan:
S1 (Sarjana) Fisika di University College, Oxford.
S3 (Ph.D.) Kosmologi di Trinity Hall, Universitas Cambridge.
8. Nick Vujicic (Australia)
Kondisi Disabilitas: Sindrom Tetra-amelia (Lahir tanpa lengan dan kaki).
Dikenal Sebagai: Motivator internasional, penulis buku laris, dan pendiri organisasi nirlaba "Life Without Limbs".
Kekuatan Pendidikan: membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi kemampuan intelektual. Ia menggunakan ilmunya di bidang keuangan untuk mengelola organisasi amalnya yang berskala global.
Riwayat Pendidikan:
Lulus dari Griffith University (Australia) dengan dua gelar Sarjana (Double Degree) di bidang Akuntansi dan Perencanaan Keuangan.
9. Marlee Matlin (Amerika Serikat)
Kondisi Disabilitas: Tunarungu (Hambatan pendengaran).
Dikenal Sebagai: Aktris pemenang Academy Award (Oscar). Ia adalah satu-satunya aktris Tuli yang memenangkan Oscar. Baru-baru ini ia juga membintangi film CODA (2021) yang memenangkan "Best Picture" di Oscar.
Kekuatan Pendidikan: Pendidikan membantunya menemukan keinginan di dunia seni peran. Ia belajar di lingkungan yang mendukung dan mengasah bakatnya.
Riwayat Pendidikan:
Menempuh pendidikan di Harper College dan mengambil studi di bidang Peradilan Kriminal (Criminal Justice).
10. Stevie Wonder (Amerika Serikat)
Kondisi Disabilitas: Tunanetra (Hambatan penglihatan).
Dikenal Sebagai: Musisi, penyanyi, dan penulis lagu legendaris. Pemenang 25 Penghargaan Grammy.
Kekuatan Pendidikan: Bakat musiknya yang luar biasa diasah sejak dini melalui pendidikan formal di sekolah khusus, yang memberinya dasar teori musik klasik yang kuat untuk karier legendarisnya.
Riwayat Pendidikan:
Belajar di Michigan School for the Blind, di mana ia mempelajari piano klasik dan komposisi musik secara formal.
Pendidikan bagian dari Kesempatan:. Kisah 10 tokoh di atas memiliki satu benang merah yang kuat: Pendidikan adalah kuncinya. Bagi mereka, pendidikan bukan hanya soal mendapatkan ijazah. Pendidikan adalah sarana untuk memahami dunia, mengasah bakat, membangun kepercayaan diri, dan membuktikan kepada dunia bahwa mereka mampu.
Mereka semua membuktikan bahwa dengan akses pendidikan yang inklusif dan berkualitas, setiap individu, apapun kondisinya, dapat meraih potensi tertinggi mereka.
Belajar dari kisah sukses di atas, jelas bahwa lingkungan pendidikan memegang peran krusial. Perguruan tinggi bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat bertumbuh. Untuk mendukung mahasiswa disabilitas meraih masa depan gemilang, berikut beberapa langkah yang bisa diambil oleh perguruan tinggi:
Ciptakan Aksesibilitas yang Utuh (Bukan Sekadar Fisik)
Akses Fisik: Pastikan gedung, ruang kelas, perpustakaan, dan toilet mudah diakses (ramp, lift, guiding block).
Akses Informasi: Sediakan materi kuliah dalam format yang beragam (Braille, soft file yang ramah screen reader, video dengan Juru Bahasa Isyarat atau teks).
Akses Digital: Pastikan website universitas, sistem informasi akademik, dan platform e-learning dapat diakses oleh teknologi asistif.
Sediakan Layanan Pendukung yang Kuat
Pusat Layanan Disabilitas: Bentuk unit khusus (seperti unit layanan disabilitas (ULD) di kampus, yang menjadi "rumah" bagi mahasiswa disabilitas. Unit ini berfungsi untuk advokasi, konseling, dan penyediaan teknologi asistif.
Pendampingan Akademik: Sediakan volunteer atau note-taker (pencatat materi) untuk membantu mahasiswa di kelas.
Juru Bahasa Isyarat (JBI): Sediakan JBI profesional bagi mahasiswa Tuli di ruang kelas dan acara penting kampus.
Bangun Budaya Inklusif di Seluruh Kampus
Edukasi Dosen dan Staf: Berikan pelatihan kepada dosen dan tenaga kependidikan tentang cara mengajar yang inklusif dan cara berinteraksi yang setara dengan mahasiswa disabilitas. Hilangkan stigma.
Libatkan Mahasiswa Non Difabel: Ciptakan program atau unit kegiatan mahasiswa yang menjembatani interaksi antara mahasiswa difabel dan non difabel.
Jangan Membeda-bedakan: Terapkan standar akademik yang sama, namun berikan akomodasi yang layak. Mahasiswa disabilitas ingin dinilai berdasarkan kemampuannya semata .
Jembatani ke Dunia Kerja
Koneksi Karier: Bangun jaringan dengan perusahaan-perusahaan yang ramah disabilitas.
Persiapan Karier: Berikan pelatihan khusus tentang penulisan CV, teknik wawancara, dan personal branding yang disesuaikan untuk mahasiswa disabilitas.
Dengan menciptakan sumber daya manusia yang benar-benar mendukung, perguruan tinggi tidak hanya membantu satu individu, tetapi sedang mempersiapkan pemimpin-pemimpin masa depan yang tangguh dan inspiratif.
Share It On: