DIC UNESA dan AIL UNAIR Perkuat Sinergi Program Disabilitas Lewat Sharing Session
puid.unesa.ac.id, SURABAYA - Pusat Unggulan Iptek Disabilitas (PUID) atau Disability Innovation Center (DIC) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) bersama Airlangga Inclusive Learning (AIL) Universitas Airlangga atau yang kerap dikenal UNAIR menggelar sharing session pada kamis, 03 Juli 2025. Kegiatan ini berlangsung di ruang rapat Unit Layanan Anak Berkebutuhan Khusus (ULABK) UNESA.
Acara ini dihadiri oleh Prof. Dr. Raditya Sukmana, SE., MA., dari UNAIR, Dr. Wahyu Jatmiko, M.Sc.,dari University of Southampton,Nadiyah A.H., M.Sc., dari University of Southampton., Mir’atun Nisa’, S.E.I, dari UNAIR, Meri Indri H., Ph,D., UNAIR, Wahyu Setyorini, SE., UNAIR serta Shochrul Rohmatul Ajija, M.Ec., dari UNAIR. Selain itu, turut hadir dari UNESA yakni Prof. Budiyanto, M.Pd., Khofidotur Rofiah, M.Pd., Ph.D., Acep Ovel Novari Beny, M.Pd., Reza Akbar Fauzan, M.Pd., Gr., Riski Prasetya Arbi, S.Pd., M.Pd., serta Vivi Kurnia Herviani, M.Pd.
Acara dibuka dengan sambutan sekaligus pengantar kegiatan, selanjutnya sesi perkenalan tim dari kedua institusi. Tim DIC UNESA dan AIL UNAIR saling memperkenalkan visi serta program kerja mereka di bidang layanan disabilitas dan pendidikan inklusif.
Dalam sesi pemaparan, Prof. Budiyanto, M.Pd., dari DIC UNESA menyampaikan materi terkait inovasi layanan disabilitas yang dikembangkan di UNESA, sedangkan Prof. Raditya Sukmana, S.E., M.A., dari AIL UNAIR memaparkan strategi inklusi yang diterapkan di UNAIR. Tururt hadir Dr. Wahyu Jatmiko, M.Se., dari University of Southampton, yang menambahkan perspektif global tentang tren program inklusi pendidikan.

Diskusi yang berlangsung hangat menyoroti tiga isu utama, yakni pendanaan dan keberlanjutan, infrastruktur dan peningkatan kapasitas, serta keterlibatan relawan. Para peserta mencermati pentingnya diversifikasi sumber dana, mulai dari anggaran Universitas, hibah, hingga pelatihan pendidikan inklusif. Gagasan pembentukan Pusat Dana Sosial (PUSPAS) sebagai penerima dana wakaf juga mencuat sebagai opsi alternatif pembiayaan jangka panjang. Selain itu, peluang kolaborasi dengan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan menjadi topik menarik untuk memperluas dukungan finansial program disabilitas.
Pada aspek infrastruktur, forum menekankan peluang pelatihan advokasi dan penerapan desain universal di lingkungan kampus untuk meningkatkan aksesibilitas. Sementara itu, strategi memotivasi para relawan dan pengelola program agar terus semangat dalam mendukung layanan disabilitas juga menjadi sorotan penting.
Menutup diskusi, peserta merangkum beberapa catatan penting, antara lain perlunya menyeimbangkan kualitas produk layanan disabilitas dengan peluang komersialisasi, serta memastikan bahwa pandangan inklusif tetap mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan. Pengukuran dampak pun diusulkan memakai indikator seperti Return on Investment (ROI), Net Present Value (NPV), serta Social Return on Investment (SCOI), meskipun diakui hingga kini belum tersedia instrumen SROI yang baku khusus untuk konteks program disabilitas, sehingga menjadi peluang riset ke depan.
Dengan kegiatan ini, diharapkan sinergi antara DIC UNESA dan AIL UNAIR semakin kuat dalam memperjuangkan pendidikan inklusif yang berkelanjutan di Indonesia.
Penulis: Lina Nur Laili
Share It On: