Nothing About Us Without Us, Mengubah Keberagaman Disabilitas Menjadi Perayaan.
Windi Nur Fadilah- Setiap tahun, kalender kita dihiasi oleh berbagai hari peringatan. Di antaranya, terselip tanggal-tanggal penting yang menjadi monumen perjuangan dan perayaan keberagaman manusia: hari-hari peringatan disabilitas. Bagi sivitas akademika, komunitas, dan para penggerak inklusi, tanggal-tanggal ini bukanlah sekadar agenda seremonial. Ia adalah titik pijak untuk refleksi, edukasi, dan aksi kolektif.
Pusat Unggulan Iptek Inovasi Disabilitas (PUID Disabilitas) mengajak kita untuk membedah makna di balik peringatan ini dari sejarahnya yang kaya hingga relevansinya dalam membangun lingkungan yang benar-benar inklusif.
Hari Braille Sedunia (4 Januari): Dirayakan sejak 2019, hari ini menghormati Louis Braille, sang penemu sistem tulisan taktil. Lebih dari itu, ini adalah pengakuan global bahwa literasi adalah hak asasi. Bagi jutaan penyandang disabilitas netra, Braille adalah kunci menuju kemandirian, pendidikan, dan pekerjaan yang layak.
Hari Pendengaran Sedunia (3 Maret): Dipromosikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hari ini meningkatkan kesadaran akan pencegahan gangguan pendengaran dan pentingnya akses layanan kesehatan telinga. Bagi komunitas Tuli dan Tuli-Netra, ini juga momentum untuk memperjuangkan akses terhadap bahasa isyarat dan teknologi bantu dengar sebagai bagian dari hak komunikasi.
Hari Down Syndrome Sedunia (21 Maret): Diadopsi secara resmi oleh PBB pada tahun 2011, tanggal ini sarat dengan simbolisme: 21/3 merepresentasikan keunikan tiga salinan pada kromosom ke-21. Hari ini menjadi platform global bagi individu dengan Down syndrome untuk menyuarakan hak mereka atas inklusi penuh di bidang pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat.
Hari Kesadaran Autisme Sedunia (2 April): Ditetapkan melalui Resolusi PBB 62/139 pada tahun 2007, hari ini pada awalnya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global. Namun, seiring menguatnya suara advokat autistik, fokusnya berevolusi dari awareness (kesadaran) menjadi acceptance (penerimaan). Ini adalah penegasan bahwa autisme bukan penyakit, melainkan bagian dari neurodiversitas keragaman neurologis manusia yang berharga.
Hari Bahasa Isyarat Internasional (23 September): Diusulkan oleh Federasi Tuli Dunia (WFD), hari ini menegaskan status bahasa isyarat yang setara dengan bahasa lisan. Ini bukan sekadar "alat bantu," melainkan bahasa yang kaya akan tata bahasa dan budaya, yang menjadi jantung dari identitas komunitas Tuli di seluruh dunia.
Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (10 Oktober): Peringatan ini penting untuk memerangi stigma seputar disabilitas psikososial. Hari ini mendorong dialog terbuka, advokasi untuk layanan kesehatan mental yang aksesibel, dan pengakuan bahwa kesehatan jiwa adalah hak asasi manusia yang fundamental, setara dengan kesehatan fisik.
Hari Tongkat Putih Sedunia (15 Oktober): Diperingati secara global, hari ini merayakan pencapaian penyandang disabilitas netra dan low vision. Tongkat putih adalah simbol kemandirian, mobilitas, dan kesetaraan. Peringatan ini menjadi pengingat bagi publik untuk menghormati hak pengguna tongkat putih atas aksesibilitas yang aman di ruang publik, sekaligus meruntuhkan stigma bahwa tongkat putih adalah tanda kelemahan, padahal ia adalah alat pemberdayaan.
Hari Disabilitas Internasional (3 Desember): Ini adalah puncak dari semua peringatan. Diproklamasikan melalui Resolusi Majelis Umum PBB pada tahun 1992, hari ini lahir dari dekade panjang advokasi. Tujuannya jelas: mempromosikan hak dan kesejahteraan penyandang disabilitas di semua lini masyarakat dan pembangunan. Peringatan ini juga menjadi evaluasi tahunan terhadap implementasi Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD), perjanjian internasional transformatif yang diadopsi PBB pada 2006.
Pentingnya Melibatkan Penyandang Disabilitas: "Nothing About Us Without Us"
Sebuah kesalahan fatal dalam upaya inklusi adalah merancang program dan kebijakan untuk penyandang disabilitas, tanpa melibatkan mereka sebagai subjek utama. Slogan global "Nothing About Us Without Us" (Jangan Membuat Kebijakan Tentang Kami Tanpa Melibatkan Kami) adalah prinsip yang tidak bisa ditawar.
1. Solusi yang Tepat Sasaran.
Penyandang disabilitas adalah ahli atas pengalaman hidup mereka sendiri. Melibatkan mereka dalam perencanaan akan menghasilkan solusi yang benar-benar fungsional, bukan sekadar asumsi.
2. Membangun Martabat dan Kepemilikan:
Keterlibatan aktif menempatkan penyandang disabilitas sebagai agen perubahan, bukan penerima pasif. Ini adalah inti dari pemberdayaan.
3. Menghancurkan Stigma.
Ketika penyandang disabilitas terlihat memimpin, berinovasi, dan berkontribusi, hal itu secara efektif meruntuhkan stereotip negatif di masyarakat.
Memaknai hari-hari peringatan ini berarti menerjemahkannya ke dalam tindakan nyata. Aksi ini bisa dilakukan dalam skala besar oleh institusi, maupun dalam skala personal yang tak kalah pentingnya.
Bagi perguruan tinggi, komunitas, dan instansi: Audit Aksesibilitas: Gunakan momentum ini untuk mengevaluasi kembali aksesibilitas fisik (ramp, lift, toilet) dan digital (situs web, sistem informasi akademik).
Kebijakan Inklusif: Integrasikan perspektif disabilitas ke dalam kurikulum, proses rekrutmen, dan layanan dukungan.
Kemitraan: Bekerja sama dengan Organisasi Penyandang Disabilitas (OPD) untuk merancang program yang lebih berdampak dan tepat sasaran.
Inklusi Dimulai dari Diri Kita: Aksi Nyata Sehari-hari Memaknai hari-hari ini tidak harus dengan acara besar. Aksi nyata justru ada pada hal-hal kecil sehari-hari yang bisa dilakukan siapa saja:
Gunakan bahasa yang baik: Ganti kata "cacat" atau "penderita" dengan "penyandang disabilitas" atau sebut langsung ragamnya (misal: disabilitas netra).
Jangan berasumsi: Jika ingin membantu, tanyakan dulu dengan sopan: "Ada yang bisa saya bantu?" Ini menghargai otonomi mereka.
Jadilah teman atau rekan yang baik: Ajak teman-teman disabilitas mengobrol, makan siang, atau terlibat dalam proyek, sama seperti mengajak yang lainnya.
Bersuara: Jika melihat ada fasilitas yang tidak aksesibel atau ada seseorang yang diperlakukan tidak adil karena kondisinya, jangan diam. Berikan dukungan secara aktif.
Pada akhirnya, semua tanggal peringatan ini bertujuan untuk membuat kita lebih manusiawi. Mari ciptakan lingkungan dimana pun kita berada yang aman, nyaman, dan terbuka untuk semua, tanpa terkecuali.
Salam Inklusi!
Share It On: