Pemerataan Pendidikan di Indonesia Melalui Pendidikan Inklusif

Seperti yang kita ketahui, pendidikan di Indonesia belum menyeluruh. Masih banyak anak-anak di luar sana yang tidak mendapatkan pendidikan secara layak, baik dari segi fisik maupun ekonomi. Anak-anak dengan keterbatasan seharusnya diberikan fasilitas yang layak sesuai dengan kebutuhan mereka. Minimnya sekolah yang menerima anak dengan keterbatasan membuat anak-anak tersebut merasa tidak ada semangat untuk bersekolah. Setelah masalah pendidikan ini mulai menyebar, pemerintah mengambil tindakan tegas berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat 1 dan Undang–Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa negara memberikan jaminan sepenuhnya kepada anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu. Hal ini menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus berhak memperoleh kesempatan yang sama dengan anak lainnya (reguler) dalam pendidikan dengan diadakannya Pendidikan Inklusif.
Pendidikan Inklusif menerima seluruh anak yang ingin menempuh pendidikan, tidak peduli bagaimana kondisi keterbatasan yang dimiliki anak tersebut. Pendidikan Inklusif sangat terbuka untuk umum, anak dengan keterbatasan dapat berteman dengan anak lainnya (reguler) tanpa ada perbedaan di antara keduanya. Yang membedakan hanyalah kegiatan pembelajaran yang harus menyesuaikan kondisi anak. Misalnya, jika ada kegiatan pembelajaran mendengarkan musik, tetapi anak tersebut tunarungu, maka kegiatan mendengarkan musik dapat diganti dengan kegiatan pembelajaran yang setara, seperti menulis lirik lagu. Jadi, anak dapat belajar dengan nyaman seperti anak lainnya (reguler). Tidak ada diskriminasi antara guru terhadap peserta didik; itulah yang dinamakan Pendidikan Inklusif.
Namun, banyak sekali hambatan untuk mewujudkan Pendidikan Inklusif di Indonesia. Dari kurang meratanya Pendidikan Inklusif di wilayah 3T (terpencil, terluar, tertinggal), minimnya tenaga pendidik, kurangnya sarana dan prasarana, serta perluasan jangkauan sekolah Pendidikan Inklusif ke wilayah yang lebih luas.
Berdasarkan data UNICEF, 67% anak berkebutuhan khusus di Indonesia belum mendapatkan akses pendidikan yang semestinya. Beberapa faktor penyebabnya adalah kemiskinan, pemerataan, dan kesetaraan gender . Banyak sekolah yang menolak penerapan Pendidikan Inklusif karena kurangnya sarana dan prasarana, serta tidak adanya tenaga pendidik yang kompeten untuk mengatasi anak yang memiliki keterbatasan. Hal inilah yang menjadi penghambat tidak meratanya pendidikan di Indonesia. Hanya daerah tertentu saja yang memiliki fasilitas yang layak sehingga dapat menerapkan Pendidikan Inklusif.
Selain itu, kurangnya dorongan orang tua untuk menyekolahkan anaknya juga menjadi masalah. Mereka berpikir anaknya tidak perlu sekolah karena memiliki keterbatasan dan kurangnya ekonomi keluarga. Padahal, masih banyak sekolah gratis di luar sana untuk anak yang memiliki keterbatasan. Tergantung orang tua, apakah mereka ingin anaknya mendapatkan pendidikan atau hanya berdiam diri di rumah.
Namun, jika tidak ada sekolah untuk anak yang memiliki keterbatasan di daerah tersebut, maka peran pemerintah untuk mencerdaskan bangsa perlu dipertanyakan.
Oleh karena itu, perlu adanya langkah-langkah untuk mengatasi hambatan Pendidikan Inklusif di Indonesia, yaitu:
- Menyediakan sarana dan prasarana yang layak sesuai dengan kebutuhan khusus yang dimiliki oleh anak.
- Mengadakan pelatihan untuk guru reguler mengenai cara mendidik anak dengan keterbatasan yang dimilikinya.
- Memperluas jangkauan sekolah Pendidikan Inklusif di berbagai wilayah.
- Mengadakan sosialisasi bersama mengenai pentingnya Pendidikan Inklusif bagi anak.
- Memotivasi dan meyakinkan anak untuk terus bersekolah tanpa mempedulikan hambatan yang ada.
Namun yang paling penting adalah adanya kesadaran dari pemerintah, orang tua, anak, dan masyarakat mengenai Pendidikan Inklusif. Jika langkah-langkah tersebut sudah terlaksana, tetapi kurangnya kesadaran antar sesama, maka pemerataan pendidikan di Indonesia tidak akan dapat terlaksana. Jika bukan kita yang membimbing mereka, maka siapa lagi yang akan menjadi generasi bangsa untuk ke depannya.
Daftar Pustaka:
- https://jonedu.org/index.php/joe/article/download/1615/1307
- https://www.kompasiana.com/hafshah25823/647ac9dd822199057d2159a2/keterbatasan-pendidikan-bagi-anak-berkebutuhan-khusus-abk-di-wilayah-terdepan-terluar-tertinggal-3t-tantangan-dan-solusi
- https://fmppbrebeskab.com/banyak-sekolah-menolak-siswa-berkebutuhan-khusus/
Penulis: Dwi Milasari
Share It On: