UNESA dan UB Perkuat Sinergi Layanan Disabilitas melalui Studi Komparasi
puid.unesa.ac.id, MALANG – Dalam rangka menguatkan Unit Layanan Disabilitas (ULD) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui Pusat Unggulan Iptek Disabilitas (PUID) atau Disability Innovation Center (DIC) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melaksanakan studi komparasi ke Subdirektorat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif (SLDPI) Universitas Brawijaya (UB) Malang. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 9 Agustus 2025 yang bertempat di Gedung SLDPI UB.
Kunjungan ini bertujuan untuk menjalin sinergi antara UB dan UNESA melalui kolaborasi di bidang tertentu, pertukaran pengetahuan terkait research, serta sharing session mengenai mekanisme penerimaan mahasiswa disabilitas di UB. Melalui forum ini, kedua belah pihak berupaya saling belajar dan mengadopsi praktik terbaik (best practices) dalam memberikan dukungan optimal bagi mahasiswa disabilitas.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Budiyanto, M.Pd., selaku Kepala Subdirektorat PUID UNESA, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun kerja sama strategis yang berkelanjutan. Ia berharap, sinergi yang terjalin dapat melahirkan inovasi bersama, khususnya dalam pengembangan teknologi asistif, peningkatan aksesibilitas kampus, dan perancangan media pembelajaran yang ramah disabilitas.
Sementara itu, Direktur SLDPI UB, Zubaidah AS., Ph.D., memaparkan secara rinci mekanisme Seleksi Mandiri Penyandang Disabilitas (SMPD). Proses ini mencakup seleksi administrasi, digital literacy, college readiness, tes akademik, dan wawancara. Tahap wawancara dilaksanakan selama dua hari oleh pihak SLDPI bersama Koordinator Program Studi yang dipilih calon mahasiswa, sehingga penilaian dapat dilakukan secara mendalam sesuai potensi dan kebutuhan masing-masing pendaftar.
Zubaidah AS., Ph.D., menegaskan bahwa kunjungan ini menjadi kesempatan berharga untuk saling bertukar pengalaman, memperluas wawasan, dan memperkuat layanan disabilitas di masing-masing perguruan tinggi. Ia berharap kerjasama ini dapat terus berlanjut sehingga kedua universitas dapat saling mengadopsi keunggulan dan pendekatan terbaik dari masing-masing institusi.
Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa di dalam setiap programnya, SLDPI UB selalu melibatkan berbagai pihak, termasuk dosen, orang tua mahasiswa disabilitas, dan pimpinan fakultas, melalui kajian rutin. Tersedia pula buku panduan daring tentang pendampingan mahasiswa disabilitas yang dapat diakses oleh dosen. Prinsip inklusif diterapkan dengan memastikan setiap kebijakan atau peningkatan aksesibilitas selalu melibatkan mahasiswa disabilitas yang bersangkutan. Pengajuan bantuan akomodasi dapat dilakukan melalui formulir daring, sementara pemetaan volunteer disesuaikan dengan kebutuhan spesifik, misalnya untuk mahasiswa tuli, volunteer dilatih bahasa isyarat agar dapat menjadi JBI.
Kepala ketua ULD UNESA menyampaikan bahwa praktik baik di UB menjadi inspirasi bagi UNESA dalam mengembangkan layanan, khususnya pada aspek digitalisasi media pembelajaran, sistem pemetaan kebutuhan mahasiswa disabilitas, dan pelatihan terintegrasi bagi volunteer maupun mahasiswa. “Studi komparasi ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi konkret antara UNESA dan UB di bidang layanan pendidikan inklusif,” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas inovasi layanan, meningkatkan kualitas pendampingan, dan memastikan seluruh mahasiswa dapat mengakses pendidikan tinggi yang setara serta inklusif.
Penulis: Lina Nur Laili
Share It On: